Mengenal Teknologi Blockchain dan Bitcoin

Blockchain adalah peranti lunak (software) untuk mengelola database (pangkalan data) di Internet. Data itu berupa “transaksi” debit dan credit seperti dalam buku besar akuntansi (ledger). Transaksi-transaksi itu disimpan di dalam “block“, lalu ditautkan (dirantai/chain) dalam periode waktu tertentu secara kronologis.

Teknologi Blockchain  Bitcoin
Teknologi Blockchain Bitcoin

Data block itu disimpan di sejumlah komputer, yang disebut “node/simpul” yang tersambung dalam sebuah jaringan peer-to-peer. Disebut jaringan peer-to-peer, karena setiap simpul dapat saling terhubung satu sama lain tanpa dikendalikan oleh entitas ataupun simpul sentral.

Teknologi blockchain adalah teknologi yang sangat baru yang memadukan teknologi yang ada sebelumnya, di antaranya adalah time-stamp untuk dokumen digital karya S. Haber dan W.S. Stornetta (1991) dan Hashcash karya Adam Back (2002) untuk pencegahan serangan dDoS (Denial of Service) pada komputer server.

Berawal dari Bitcoin Saat ini ada ratusan teknologi blockchain. Tetapi semuanya berasal dan berawal dari teknologi blockchain Bitcoin yang digagas dan diciptakan oleh Satoshi Nakamoto dalam makalahnya: “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” yang diterbitkan di situs web Bitcoin.org pada 31 Oktober 2008.

Software-nya, bernama Bitcoin Core, dikeluarkan pertama kali pada 9 Januari 2009. Karena bersifat open source, kodenya dikembangkan oleh banyak pihak hingga hari ini.

Sosok pencetus Bitcoin, Satoshi Nakamoto adalah nama samaran yang hingga detik ini tidak diketahui siapa. Apakah dia mewakili pribadi seseorang, kelompok orang, perusahaan, organisasi tertentu atau negara. Tak ada yang tahu, kendati sejumlah media besar pada tahun 2016 mencoba menelusurinya.

Hasilnya nihil. Tetapi dunia telah merasakan teknologi blockchain Bitcoin telah mengguncang (disrupting) sistem komunikasi manusia, utamanya sistem keuangan tradisional yang kita miliki saat ini.

Kendati teknologi blockchain dapat pula digunakan untuk mengelola semua bentuk data digital tanpa entitas sentral, pada awal percobaan pada Bitcoin, Satoshi Nakamoto menerapkannya pada sistem uang elektronik.

Disebut sebagai sebuah sistem karena ada beberapa elemen di dalamnya: pertama, sebagai teknologi untuk mentransfer nilai (value/uang). Kedua, sebagai teknologi untuk menciptakan bentuk uang digital yang baru.

Ketiga, setiap orang dapat ikut serta sistem blockchain Bitcoin dan terhubung satu sama lain secara langsung (direct/peer-to-peer), tanpa melalui bank, tanpa melalui negara, hanya melalui sistem elektronik di Internet.

Keempat, menggunakan sistem kriptografi yang canggih dan bersifat peer-to-peer, maka setiap transaksi yang terjadi di blockchain bersifat kekal (permanent). Maksudnya, setiap kali Anda menyimpan data di dalamnya, tidak akan bisa dihapus.

Ini berbeda dengan Anda sangat menghapus file digital di komputer. Sifat inilah yang membuat blockchain lebih terpercaya daripada sistem digital lama yang memiliki entitas sentral yang mengendalikan keseluruhan sistem, khususnya di bidang keuangan.

Kelima, semua transaksi keuangan di blockchain Bitcoin bersifat transparan alias terbuka. Artinya siapapun dapat melihat datanya secara real time, mulai dari jumlah Bitcoin ditransaksikan, tanggal dan jam berapa dan dari mana dana itu dikirimkan. Tetapi, Anda tidak dapat tahu siapa identitas pemilik Bitcoin tersebut, kecuali dibeli dan dijual di bursa aset kripto/mata uang kripto.

Bagaimana Bitcoin Tercipta?Seperti disinggung di atas, sebagai sebuah sistem uang elektronik, blockchain Bitcoin tak hanya sebagai teknologi mengirimkan dana/value/uang/dana, tetapi pula menciptakan bentuk baru uang digital atau yang kini lazim dikenal sebagai mata uang kripto alias cryptocurrency.

Disebut “kripto” atau “crypto” karena asasnya utamanya adalah sistem enkripsi (penyandian) terhadap sebuah data digital: kriptografi. Sebagian menyebutnya dengan istilah aset digital ataupun aset kripto atau digital currency.

Lantas bagaimana mata uang kripto Bitcoin (BTC) tercipta? Satoshi Nakamoto menyebutkan BTC tercipta dengan istilah “mining” atau “penambangan” mirip seperti menambang emas di dunia nyata. Kalau penambangan emas di dunia nyata menggunakan sekop, bor dan segala perlengkapan fisik lainnya, penambangan Bitcoin dilakukan menggunakan komputer berspesifikasi tinggi, yang fokus pada perangkat keras GPU (Graphics processing unit) alias kartu grafis.

Komputer yang digunakan untuk menambang harus menggunakan software Bitcoin Core dan software khusus untuk melakukan penambangan.

Para penambang (miner) Bitcoin yang menggunakan GPU tersebut berperan sebagai pemeriksa (verificator), pengesah (validator) dan pengamanan (security) sistem transaksi keuangan Bitcoin untuk setiap blok transaksi.

Semakin tinggi spesifikasi GPU yang digunakannya, maka semakin valid dan semakin amanlah jaringan blockchain Bitcoin itu dari serangan peretas yang ingin mencuri uang Bitcoin di dalamnya. Itu semua berlangsung secara otomatis dan harus selalu terkoneksi dengan Internet.

Nah, atas peran dan jasa para penambang itulah, mereka diberikan imbalan (reward) berupa Bitcoin setiap 10 menit (saat ini 12,5 unit Bitcoin). Periode 10 menit itu merepresentasikan munculnya blok baru, yang setiap blok berisikan transaksi (debit dan kredit) Bitcoin.

Bitcoin yang didapatkan oleh penambang (sebagai imbalan) itu lantas dapat dijual menjadi uang sungguhan (dolar ataupun rupiah) oleh penambang untuk mengembalikan modal membeli GPU dan komputer serta perangkat keras lainnya, termasuk biaya listrik yang tidak kecil. Jadi, semakin tinggi spesifikasi GPU dan semakin banyak jumlah GPU yang digunakan, maka semakin besar peluang para penambang itu untuk mendapatkan imbalan berupa Bitcoin, karena GPU bekerja lebih cepat untuk memverifikasi dan memvalidasi transaksi.

Masalahnya, jumlah penambang itu sangat banyak, artinya mereka bersaing satu sama lain, berebut mendapatkan imbalan Bitcoin tersebut.

Saat ini GPU untuk menambang dibuat secara khusus dalam bentuk perangkat keras yang disebut ASIC (application-specific integrated circuit). Dibuat khusus seperti itu, karena semakin lama tingkat kesulitan menambang Bitcoin semakin tinggi (mining difficulty).

Bitcoin Reward HalvingImbalan Bitcoin kepada para penambang dirancang oleh Satoshi Nakamoto agar berkurang sebanyak separuh (50 persen) setiap munculnya 210.000 block (setara 4 tahun, karena setiap 10 menit muncul block yang baru).

Jadi, jikalau saat ini para penambang mendapatkan imbalan Bitcoin sebanyak 12,5 Bitcoin per 10 menit, maka pada Mei/Juni 2020, para penambang memperebutkan hanya 6,25 Bitcoin (separuh dari 12,5 Bitcoin) per 10 menit dan begitu seterusnya. Inilah yang disebut sebagai Reward Halving. Pada awal blockchain Bitcoin berjalan (2009), imbalan Bitcoin kepada para penambang adalah 50 Bitcoin per 10 menit.

Reward Halving pertama jatuh pada 28 November 2012. Ketika itu harga Bitcoin di kisaran US$12,22. Di sini jumlah Bitcoin setiap 10 menit sudah berkurang dari 50 menjadi 25 Bitcoin saja. Kemudian Reward Halving kedua terjadi pada 9 Juli 2016 dengan harga satuannya US$657,61.

Di sini jumlah Bitcoin baru yang tercipta menjadi 12,5 per 10 menit. Maka, Reward Halving berikutnya adalah periode ketiga, di mana berkurang menjadi 6,25 Bitcoin per 10 menit. Itu terus berlangsung setiap 4 tahun sekali.

Dengan mekanisme Reward Halving, maka jumlah unit Bitcoin yang tercipta sangat-sangat terbatas alias langka seperti emas. Saat ini, per 29 September 2019 pukul 12:13 WIB, Bitcoin yang sudah beredar sebanyak 17.963.475.

Nah, karena setiap 4 tahun sekali jumlah Bitcoin baru yang tercipta berkurang separuh, maka jumlah maksimal Bitcoin yang beredar adalah 21.000.000 unit. Dengan kata lain, tinggal 3.036.525 unit Bitcoin yang belum ditambang.

Dengan periode yang konsisten, yakni per 10 menit muncul Bitcoin yang baru dan setiap 210.000 block, imbalan berkurang sebanyak separuh, maka Bitcoin terakhir yang ditambang akan jatuh pada 7 Mei 2140 atau 8 Oktober 2140.

Adakah penerapan blockchain selain di sektor keuangan?

Ada beberapa proyek yang sedang berusaha menerapkan blockchain di luar sektor keuangan. Saat ini, ada usaha untuk membangun riwayat medis pasien di atas blockchain, melacak produk dalam rantai pasok memakai blockchain, situs media sosial memakai blockchain dan lain sebagainya.

Kendati demikian, dalam praktiknya kegunaan blockchain masih sangat terbatas. Bitcoin memiliki kegunaan terbesar sebab bisa dipakai untuk pembayaran daring dan pengiriman uang antar negara, dan Ethereum dipakai sebagai platform terbesar bagi aplikasi desentralistik, tetapi aset kripto lain masih sangat muda dan belum banyak digunakan. Hal ini menunjukkan antusiasme terhadap potensi blockchain lebih besar dibanding realitanya saat ini.

Bagaimana potensi blockchain menurut perusahaan besar?

Perusahaan riset teknologi asal Amerika Serikat Gartner berkata perpindahan ke ekonomi berbasis blockchain harus disertai dengan perubahan data dan aset keuangan saat ini menjadi token digital dan smart money.

Di sisi lain, kendati ada antusiasme tinggi terhadap blockchain, teknologi ini belum dianggap prioritas oleh petinggi-petinggi perusahaan. Dalam survei Gartner, hanya 5 persen petinggi perusahaan yang melihat blockchain sebagai teknologi besar, jauh di bawah kecerdasan buatan dan analisa data serta cloud computing.